ABSTRAK
Realitas sejarah menunjukkan bahwa gerakan pelajar memiliki peran yang cukup signifikan dalam dinamika sosial politik di Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dengan kiprah dan perjuangannya yang secara aktif terlibat dalam berbagai situasi politik, baik pada pra-kemerdekaan, era Orde Lama, era Orde Baru, era Reformasi dan pasca Reformasi dewasa ini. Atas peran dan kontribusinya tersebut, pelajar mendapatkan posisi yang cukup terhormat di masyarakat sebagai generasi penerus estapeta kepemimpinan bangsa. Peran serta pelajar dalam arena politik nasional sempat mengalami pasang surut sesuai dengan situasi politik yang terjadi pada zamannya. Perubahan politik yang melanda negeri turut merubah pula gerakan pelajar, terutama dalam masa peralihan dari rezim Orde Lama ke Orde Baru. Situasi politik yang tidak mendukung akibat dominasi kebijakan Orde Baru tersebut perlahan melemahkan gerakan pelajar dalam pentas politik nasional. Sementara itu, kebijakan pemerintah pada era Reformasi yang sejatinya menjadi babak baru dalam budaya politik di Indonesia belum mampu mendorong peran pelajar untuk ikut kembali berpartisipasi dalam arena politik. Maka dari itu peran organisasi pelajar dipercaya mempunyai peranan dalam menumbuhkan kesadaran politik pelajar, salah satunya dengan melakukan pemberdayaan politik kepada pelajar. Dalam penelitian ini, penulis menganalisa mengenai Peran Pelajar Islam Indonesia (PII) yang ada di Jakarta dalam pemberdayaan politik pelajar pada kurun waktu 1998-2010. Motode yang dipakai adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif, di mana penulis melakukan observasi, wawancara dan studi dokumentasi terhadap Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Jakarta.
Dari hasil data penelitian yang diperoleh dapat diketahui, PW PII Jakarta menilai bahwa peran politik pelajar sangat penting, hal itu karena posisi pelajar selain memiliki makna secara sosial dan juga politis. Dari sisi sosial, pelajar merunjuk kepada sebuah entitas yang eksistensinya terkait dengan proses belajar dan masuk dalam daur dunia pendidikan. Sementara secara politis keberadaan pelajar mewakili komunitas terdidik dan relatif berperadaban sehingga peranannya dalam proses perubahan sosial menjadi sebuah keniscayaan. Pandangan PW PII Jakarta terhadap peran politik pelajar tidak berada pada wilayah politik praktis, yakni orientasi pada jabatan di tingkatan kekuasaan formal (DPR RI, Bupati, Gubernur dan lain-lain), tetapi dalam bentuk high politic yaitu sikap moral dan kepedulian pelajar terhadap permasalahan bangsa serta ikut berperan aktif sebagai tanggung jawab sosial pelajar dalam masyarakat. Dalam melaksanakan pemberdayaan politik terhadap pelajar, PW PII Jakarta menggunakan tiga aras strategi pemberdayaan, yaitu mikro, mezo dan makro. Pada wilayah mikro dilaksanakan Hari Komunikasi (Harkom) dan posko pengaduan pelajar sebagai media bimbingan dan konseling kepada individu pelajar dalam permasalahan sosial politik yang di hadapinya. Pada wilayah mezo dilaksanakan kaderisasi kepemimpinan dalam bentuk Leadership Basic Training (LBT), pendidikan politik pelajar, seminar dan diskusi pelajar. Sementara itu, pada wilayah makro dengan melaksanakan aksi sosial dan kampanye pelajar dalam menjaring aspirasi pelajar serta ruang aktualisasi pelajar dalam menyuarakan sikap politiknya.